Polisi Melakukan Penggerebekan Pabrik Narkoba di Denpasar

oleh

Suaraanalisa.com – Satu Tim Mabes Polri gabungan dengan Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta, mengendus adanya sebuah paket mencurigakan dari Negeri Tirai Bambu, China.

Satu paket itu disinyalir kuat adalah narkotika jenis Cannabinoid Sintetis dengan bentuk 5-Flouro ADB atau serbuk.

19 Maret 2018 lalu, paket itu tiba di Jakarta, yang akan ditujukan ke Denpasar dicampur dengan tembakau asli.

Masyarakat mungkin sudah mendengar, tentang narkoba jenis baru yakni Tembakau Gorila, Tembakau Ganja atau sebutan lainnya.

Sebutan berbeda, namun itu berujung sama melalui proses pembuatan dari sebuah serbuk asal China, yang mengadung Cannabinoid Sintetis.

Tim Gabungan Mabes Polri, Polda Bali dan Bea Cukai Soekarno Hatta dan Ngurah Rai, akhirnya membongkar sebuah rumah tinggal, sekaligus menjadi tempat produksi ganja sintetis di Denpasar.

Menariknya, narkotika ini diproduksi tak lebih dari satu kilometer dari Kantor Korps Bhayangkara Jalan Gunung Sanghyang atau Mapolresta Denpasar.

Kasubdit I Narkotika Dit Tipid Narkoba Bareskrim Mabes Polri, Kombes Pol Asep Jenal Akhmadi menyatakan, Cannabinoid Sintetis ini merupakan narkotika golongan I, dalam bentuk serbuk berwarna putih kekuning-kuningan.

Kemudian dicampur dengan tembakau asli atau biasa.
Dari proses itu akhirnya menjadi ganja sintetis yang sering beredar berupa tembakau gorila atau tembakau ganja.

“Kami amankan serbuk yang termasuk narkotika golongan I,” ucapnya.
Penangkapan dilakukan, Selasa 20 Maret 2018 sekitar pukul 16.40 Wita di depan sebuah hotel di kawasan Jalan Pemuda 3 Nomor 23 Denpasar.
Dari penangkapan itu, akhirnya diamankan Krisna Andika Putra (20) warga Jalan Setia Budi Denpasar.

Paket itu diambil oleh tersangka, dan akhirnya dikembangkan hingga di tempat tinggal tersangka di Jalan Tunjungsari Perumahan Paramita II, Denpasar.

Di rumah tinggal itu, diamankan Anak Agung Eka Nanda (24) warga Jalan Setia Budi Denpasar.

“Tersangka Krisna sebagai penerima dan produsen narkotika dalam bentuk serbuk cannabinoid sintetis untuk bahan pembuatan tembakau narkotika dari China,” ungkapnya.

“Sedangkan Eka, turut serta memproduksi Cababinoid sintetis dengan campuran 5- flouro ADB dengan tembakau,” jelas Asep.

Mulanya, dijelaskan Asep, Senin 19 Maret 2018 lalu, pihaknya mendapat informasi dari Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta Tangerang, bahwa ada pengiriman dari jasa pengriman internasional (FEDEX), yang kemudoam dihubungkan dengan agen di Denpasar.

Lantas, dalam pemeriksaannya diketahui, bahwa kiriman itu dugaannya mengandung Narkotika Sintetis Cannabinoid.
Bentuknya ialah serbuk 5-flouro ADB dengan berat 500 gram.
Yang tujuannya kepada Michael Ardana dengan alamat di Jalan Pemuda III Nomor 23 Renon Denpasar.

“Kemudian kami lakukan pemeriksaan labfor. Dari hasil pemeriksaan awal Labfor Mabes Polri, serbuk warna kecoklatan berlogo positif mengandung Cannabinoid Sintetis,” tegasnya.

Akhirnya, sehari kemudian ada koordinasi dengan pihak Ditresnarkoba Polda Bali untuk melakukan penangkapan.
Sehari setelahnya, Krisna Andika sekitar pukul 16.30 Wib atau 17.30 Wita ditangkap di Jalan Pemuda.

Selain tersangka dan barang bukti 500 gram Cannabinoid Sintetis berupa serbuk diamankan pula tembakau sebanyak 40 kilogram.

Kemasan ganja sintetis yang dimasukkan ke dalam kotak (serupa kotak semir sepatu) dan beberapa barang lainnya terkait pembuatan hingga kemasan.

Asep menyebut, sindikat ini menggunakan modus mendistribusikannya melalui pasar online via WA, BBM Line dan Instagram.

Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan KPU Bea Cukai Tipe C Soekarno-Hatta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang mengatakan, ketika curiga dengan paket kiriman dari China, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Mabes Polri.

Kemudian koordinasi dengan pihak pengiriman barang di Denpasar.

Dari hasil uji lab, ternyata benar paket 500 gram itu adalah serbuk yang mengandung canabinoid sintetis.

Sementara kesaksian tetangga tersangka, AA SG Ayu Ria Tri Widiantari mengaku kaget karena biasanya suasana rumah tersebut sepi.

“Iya, kaget saja biasanya sepi, cuma biasa juga ada mobil Fortuner dan beberapa sepeda motor yang parkir di depan rumah itu,” jelasnya.

Ia mengatakan tidak pernah juga mendengar suara-suara aneh atau ribut dari rumah yang diketahui sebagai pabrik tembakau gorilla itu.

“Tidak pernah dengar suara aneh, memang kesannya tertutup sih. Cuma kemarin malam Selasa (20/3/2018) sekitar pukul 20.30 Wita mendengar ada ramai-ramainya. Katanya ada maling dan ada intel yang kejar tapi tidak dapat,” ungkapnya merasa tak percaya.

Diketahui rumah kontrakan itu sudah dihuni selama 1 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *