Seorang Kakek Ditangkap Saat Sedang Pesta Sabu

oleh

Suaraanalisa.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya menangkap AR (58), pria lanjut usia yang ikut pesta sabu dengan lima tersangka lainnya.

Awalnya polisi tidak mengetahui jika AR ikut serta dalam pesta barang haram tersebut.

“Petugas hanya menemukan lima orang yang sedang pesta sabu sambil menonton pertandingan bola. Kemudian, kelima orang itu diminta untuk melakukan tes urine dan hasilnya positif. Selang beberapa saat, seorang petugas linmas datang ke rumah penggerebekan lalu dites juga, positif,” terang AKBP Suparti, Kepala BNNK Kota Surabaya, Sabtu (30/6/2018).

AR pun tidak bisa mengelak dan mengakui kedatangannya ke rumah tersebut, hendak membeli sabu-sabu lagi.

Petugas keamanan itu lanjut AKBP Suparti pulang dari berjaga malam pos TPS.
Niatnya membeli sabu agar kuat begadang.

“Awalnya saya jaga, terus ke sana. Saya ikutan gratis. Tiga kali langsung pergi lagi, buat betah begadang” kata AR di BNN Kota Surabaya, jumat (29/6/2018).

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Balai Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya menangkap enam orang saat sedang pesta barang haram, sabu.

Keenam orang masing-masing berinisial MS (27), SA (38) JU (26), SAN (52), AR (58), dan GU (21) pada Jumat (29/6) malam hari.

Satu di antaranya masih menggunakan seragam hansip AR (58), karena baru saja selesai melakukan pengamanan di TPS sekitar.

BNNK Surabaya menangkap mereka di rumah MS jalan Kendangsari XII. Dalam penangkapan tersebut, BNNK mengamankan sabu seberat 0,84 gram beserta seperangkat alat hisapnya.

“MS ini pengedar dan pemakai narkoba, dia menjual barang haram ke keluarga dan tetangga. Dari enam orang memang ada yang masih hubungan keluarga dan berpakaian hansip. Tes urin dan semua positif,” terang AKBP Suparti, Kepala BNNK Surabaya, Sabtu (30/6).

AKBP Suparti melanjutkan memang ada fenomena baru dalam peredaran narkoba ini. Yaitu penyebarannya melalui keluarga dan tetangga.

Di Surabaya, BNNK sudah menemukan beberapa kasus yang melibatkan keluarga dan tetangga.

“Kami menemukan beberapa kali kasus seperti ini, misalnya satu keluarga dua sampai tiga tersangka. Ada yang satu tersangka yang sudah di lapas. Orang-orang ini bahkan menggunakan narkoba di rumah, di ponten, kadang di sela-sela gang,” lanjut Suparti.

Untuk itu pihak BNNK berharap masyarakat peka terhadap lingkungan sekitar, dan ikut mengawasi. Terlebih di banyak kasus BNNK menangkap anak-anak usia SMP dan SMA.

“Kepekaan masyarakat ini dibutuhkan terutama di tempat pemukiman padat, ekonomi lemah, dan pendidikan rendah,” kata AKBP Suparti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *