Saturday, June 28, 2025

Irjen Pol Herry Heryawan Ingin Jadi Bapak Angkat Gajah Domang dan Tari

Pelalawan, Suaraanalisa.com – Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mengajukan dirinya menjadi bapak angkat dua gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) yang berada di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Pelalawan. Irjen Herry menjadi bapak angkat untuk gajah Domang dan gajah Tari.

“Saya juga sudah bicara dengan Domang dan Tari. Saya bilang sebagai perwakilan gajah-gajah dan akan menjadi orang tua Domang dan Tari. Saya sudah bilang ke Bupati Pelalawan, boleh enggak Domang dan Tari dimasukkan ke dalam kartu keluarga sebagai anak saya. Kita daftarkan Domang dan Tari sebagai warga negara kehormatan provinsi Riau,” ujar Irjen Pol Herry Heryawan dikutip dari video yang diunggah di Instagram Pribadinya.

Pernyataan Herry Heryawan tersebut menuai pujian atas perhatiannya pada satwa dilindungi tersebut. Namun sebelumnya, Polda Riau masih punya hutang atas pengungkapan kasus ‘pembunuhan’ gajah di TNTN, tahun lalu yakni kematian gajah Rahman yang diduga karena diracun dan gading sebelah kirinya hilang dipotong.

Gajah Rahman adalah satu dari 30 gajah dari Koto Panjang, Kampar. Mereka tergusur karena proyek pembangkit listrik tenaga air, kerjasama Pemerintah Indonesia dan Jepang pada 1990. Puluhan rombongan gajah itu lalu pindah ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga, Duri, Bengkalis, sebelum lepas liar ke Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (GSK).

Meski lepas ke alam bebas, Rahman justru kerap kembali ke PLG Sebanga. Sampai akhirnya menetap dan jadi gajah jinak, sekaligus pelatih gajah liar yang baru ditempatkan di sana.

Sekitar 2001, Rahman sempat pindah ke PLG Minas, Kabupaten Siak. Ia juga melatih gajah liar di sana. Ketika WWF Riau memulai kerjasama perlindungan gajah dengan BKSDA Riau, sekitar 2004, gajah Rahman pindah ke TNTN. Di TNTN, Rahman mendapat tugas yang lebih banyak.

Rahman paling andal memitigasi konflik gajah dan manusia. Bila konflik satwa liar ini sudah tidak tertangani manusia, Rahman akan turun menggiring gajah liar kembali ke habitat lebih aman. Ia jadi kapten dengan berjalan di barisan depan.

Sudah tidak terhitung jumlah penanganan konflik satwa dan manusia dengan melibatkan jasa gajah Rahman. Mainnya tidak sekadar di Camp Flying Squad tetapi menjelajah seluruh kawasan TNTN yang membentang di tiga kabupaten yakni Pelalawan, Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi.

Selain urusan menghadapi sesama gajah, Rahman juga terlibat dalam patroli pengamanan hutan dan kebakaran di TNTN. Kegiatan itu rutin dua kali dalam satu minggu. Terkadang interaksi ini keluar dari kawasan taman nasional.

Pada 10 Januari 2024, Rahman, gajah sumatera Flying Squad di TNTN, Pelalawan, Riau, ditemukan mati dengan gading sebelah kiri hilang.

Gading gajah berumur 46 tahun itu dipotong dengan menggunakan benda tajam sampai ke pangkal gading. Berdasarkan hasil nekropsi (bedah bangkai) yang dilakukan tim medis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau pada (11/1/2024), organ pencernaan dan organ dalam gajah itu berwarna pucat. Lalu juga ditemukan sisa buah pepaya dan serpihan serbuk berwarna hitam yang diduga racun.

Koordinator For Gajah Rahman, Fitriani Dwi Kurniasari mengapresiasi kepedulian Kapolda Riau Irjen Pol Herry Herjawan terhadap lingkungan dan satwa, khususnya gajah.

Saya pribadi tentu mengapresiasi komitmen nyata dari Kapolda Riau yang menunjukkan kepedulian terhadap perlindungan satwa dan habitatnya, terutama gajah. Itu sinyal positif yang jarang kita temui dan patut kita dorong bersama,” kata Fitriani saat dihubungi SabangMerauke News, Rabu (25/6/2025).

Dia berharap, kepedulian Kapolda Riau itu tidak berhenti di level simbolik saja, akan tetapi ada tindak lanjut yang serius dari pihak Polda Riau terhadap kematian Gajah Rahman sebab sudah lebih dari setahun berlalu belum ada kejelasan hukum.

“Kami percaya kasus Rahman bisa menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa kejahatan terhadap satwa tidak bisa dianggap sepele. Apalagi Rahman ini bukan gajah biasa, tetapi gajah latih yang sudah 20 tahun mengabdi untuk menjaga hutan,” ujar Ani sapaan akrab Fitriani

For Gajah Rahman, kata Ani, ingin kasus kematian gajah Rahman dilanjutkan kembali lantaran sudah terlalu lama senyap. Menurutnya, bukti-bukti yang ada sudah jelas kalau Rahman sengaja diracun dan gadingnya dicuri. “Ini kan berarti ada indikasi kuat perdagangan satwa liar,” sebutnya.

“Kami sebagai masyarakat siap mendukung dengan cara-cara kolaboratif dan terbuka, karena tujuan akhirnya sama yakni menjaga warisan hutan dan satwa kita bersama,” pungkasnya.(*)

Related Articles

Latest Articles